Tahap Penyakit Kelamin Sifilis

Penyakit sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum (spirochaeta). Dapat ditularkan melalui kontak seksual, kontak personal atau dari ibu ke janinnya.

Jika tidak diobati, akan terjadi 4 tahap perjalanan penyakit, yaitu :

1. Sifilis Primer

Masa inkubasinya 10 hari sampai 3 bulan. Gejala pertama timbul ulkus atau disebut dengan chancre pada penis, tepian menimbul, keras (mirip kancing), mungkin ada pembesaran kelenjar limfe regional (tidak nyeri). Ulkus primer (afek primer) sembuh spontan, meninggalkan parut seumur hidup. Tes serologis pada fase ini adalah normal. Diagnosis ditegakkan dengan menemukan spirochaeta pada sekret dari ulkus.

2. Sifilis Sekunder

Pada tahap ini, timbul kelainan kulit makulo-papuler. Di genitalia timbul plak lebar dan agak meninggi, disebut condylomata lata. Terdapat limfadenopati umum. Empat sampai 12 minggu setelah mulai tahap 2 ini, semua gejala lenyap dan pasien memasuki masa laten. Tes serologis pada fase ini menunjukkan hasil positif. Dari masa laten dapat sembuh spontan (tes serologis negatif) atau memasuki sifilis tersier atau tetap laten.

3. Sifilis Laten

Pada stadium ini, dimulai setelah gejala pada fase primer dan sekunder menghilang. Tanpa penanganan, orang yang terinfeksi akan terus mengidap sifilis meskipun tanpa gejala. Stadium ini dapat berlangsung hingga tahunan.

Sifilis laten dapat berkembang pada 15% penderita yang tidak dirawat, dan dapat muncul 10-20 tahun setelah infeksi pertama diperoleh. Pada sadium laten,sifilis mulai merusak organ dalam, termasuk otak, saraf, jantung, pembuluh darah, mata, hati, tulang dan persendian.

Gejala pada sifilis laten ini antara lain kesulitan koordinasi pergerakan otot paralisis, buta bertahap dan dementia. Kerusakan ini dapat berlangsung serius dan dapat mengakibatkan kematian.

4. Sifilis Tersier

Terjadi pada sekitar 1/3 kasus sifilis yang tidak diobati. Sembarang organ dapat terserang pada tahap ini, terutama otak dan jantung. Juga dapat terjadi gumma (daerah nekrotis luas) di hati, tulang dan testes. Jika menyerang otak akan mengakibatkan kematian.

Sifilis Pada Kelamin

Sifilis merupakan penyakit yang disebabkan oleh spirokaeta Treponema pallidum yang ditularkan melalui kontak langsung dengan lesi basah yang terinfeksi. Organisme ini dapat menembus membran mukosa yang intak atau kulit yang terkelupas atau di dapat melalui transplasenta. Satu kali kontak seksual dengan mitra seksual yang terinfeksi memberikan kemungkinan 10% menderita sifilis. Penyakit yang tidak diobati akan berlanjut dari sifilis primer ke sifilis sekunder, sifilis laten dan akhirnya sifilis tersier. Sifilis kongenital mempunyai perjalanan penyakit dan gejala-gejala sendiri.

Lesi primer sifilis adalah chancre keras, papula yang padat dan indurasi tanpa rasa sakit atau ulkus dengan tepi meninggi yang muncul 10 hari hingga 3 bulan (rata-rata 3 minggu) setelah masuknya treponema ke dalam tubuh. Chancre ini dapat terletak di genitalia eksterna, serviks atau vagina atau daerah kulit manapun atau membran mukosa tubuh tetapi seringkali tidak terlihat pada wanita. Lesi primer menetap selama 1-5 minggu dan kebanyakan diikuti penyembuhan spontan. Setiap lesi yang dicurigai sebagai chancre harus dilakukan pemeriksaan lapangan gelap, untuk mencari adanya treponema karena tidak tersedia biakan. Uji serologis untuk sifilis harus dilakukan setiap minggu selama 6 minggu atau sampai positif (biasanya reaktif 1-4 minggu setelah muncul chancre).

Sifilis Pada Vagina

Erupsi kulit generalisata (makula, makulopapuler, papuler atau pustuler) atau sifilis sekunder muncul 2 minggu hingga 6 bulan setelah lesi primer. Ruam yang terjadi difus, bilateral, berupa erupsi papuloskuamosa simetris yang dapat mengenai telapak tangan dan kaki. Terdapat lesi di perineum (papula yang basah, kondiloma latum) dan positif untuk treponema pada pemeriksaan lapangan gelap atau penelitian imunofluoresen. Mungkin terdapat bercak mukosa lainnya disamping alopesia setempat, hepatitis atau nefritis. Limfadenopati generalisata khas terjadi. Lesi sekunder menetap selama 2-6 minggu dan sembuh spontan. Uji serologi hampir selalu positif pada tahap ini.

Sifilis laten adalah sifilis yang tidak diobati, setelah gejala-gejala sekunder menghilang. Penderita ini tetap terinfeksi selama 1-2 tahun dan dapat kambuh menyerupai tahap sekunder. Keadaan laten ini dapat berlangsung seumur hidup atau berakhir dengan berkembangnya sifilis tersier yang terjadi pada sepertiga penderita.

Cara Mencegah Sifilis

Cara untuk mencegah penularan penyakit sifilis sama dengan cara mencegah penyakit menular seksual lainnya, yaitu berhenti melakukan kontak seksual dalam jangka waktu lama dan memiliki satu pasangan tetap untuk melakukan hubungan seksual.

Menghindari alkohol dan obat-obat terlarang juga membantu mencegah penyebaran sifilis karena aktivitas tersebut meningkatkan perilaku seksual beresiko. Penting bagi pasangan untuk membicarakan secara terbuka mengenai riwayat peyakit menular seksual mereka atau mungkin statusnya pada HIV sehingga langkah pencegahan dapat dilakukan.

Luka pada alat kemaluan dapat muncul pada pria dan wanita. Luka tersebut dapat muncul pada area yang terlindungi kondom maupun area yang tidak terlindungi. Penggunaan kondom lateks dengan benar dan konsisten dapat menurunkan resiko penularan sifilis dan juga penyakit menular seksual lainnya bila area yang terinfeksi terlindungi.

Penyakit Kelamin Sifilis

Sifilis disebabkan oleh suatu spiroketa, Treponema pallidum yang masuk ke dalam tubuh melalui celah kecil pada kulit genitalia eksterna yang terjadi selama hubungan seksual. Setelah spiroketa masuk, penyakit yang tidak diobati akan berlanjut melalui empat tahap yang berurutan : sifilis primer, sekunder, laten, dan tersier. Terapi antibiotik pada suatu stadium sebelum tersier dapat mencegah sequelae lanjut dan mengancam nyawa dari penyakit. Sifilis juga dapat ditularkan dari wanita kepada janinnya pada setiap saat selama kehamilan dengan konsekuensi yang serius.

Lesi primer sifilis, yaitu chancre, berkembang pada lokasi di kelamin yang dekat pada lokasi masuknya T. pallidum ke dalam tubuh : penis, labia, perineum, anus atau rektum. Chancre, merupakan papul kecil tidak nyeri yang menetap selama 1-2 bulan dan akan sembuh spontan.

Stadium sekunder dari sifilis adalah bentuk diseminata. Spiroketa yang terdapat dalam darah berkumpul di dermis seluruh tubuh dan menyebabkan bercak papul kemerahan yang menyebar luas di batang tubuh dan ekstermitas. Karena penyakit bersifat sistemik, maka sering dijumpai demam, mialia, limfadenopati, sakit flu, dan sakit kepala. Sifilis sekunder juga berhubungan dengan deposisi kompleks imun di persendian, ginjal dan mata yang menyebabkan artritis, glomerulonefritis, sindrom nefrotik dan uveitis. Sifilis sekunder yang tidak diobati menghilang dalam 4-12 minggu, sehingga penderita bebas dari gejala. Beberapa bulan hingga tahun berikutnya sampai timbul gejala-gejala sifilis tersier dikenal sebagai periode laten.

Sifilis tersier biasanya tampak beberapa tahun setelah stadium diseminata. Sifilis tersier dapat melibatkan berbagai organ, termasuk sistem kardiovaskular dan sistem saraf. Secara keseluruhan, sekitar seperempat penderita yang tidak diobati mengalami komplikasi sifilis lanjut (tersier) yang dapat dikenali, seperempat pasien mengalami lesi asimtomatik yang dapat ditunjukkan saat autopsi, dan setengah pasien tidak memiliki lesi anatomis akibat sifilis saat autopsi. Sekitar setengah dari penderita dengan sifilis tersier simtomatik akan meninggal sebagai akibat langsung dari penyakit, biasanya karena komplikasi kardiovaskular.

Infeksi pada plasenta dan janin akan terjadi pada 100% wanita hamil yang mengalami spiroketemia yang menyertai sifilis primer atau sekunder. Komplikasi sifilis pada kehamilan meliputi keguguran spontan, lahir mati, persalinan prematur, dan sifilis kongenital. Manifestasi sifilis kongenital adalah protean. Angka kematian neonatus adalah 50%.

Sifilis diterapi dengan penisilin pada semua pasien, kecuali pasien yang memiliki alergi.

Epidemiologi Sifilis

Sifilis sangat banyak ditemui di berbagai bagian dunia hingga terapi antibiotik ditemukan pada tahun 1940-an. Prevalensi penyakit ini menurun drastis setelah Perang Dunia II namun mulai meningkat lagi pada tahun 1960-an. Hampir 75% kasus tidak dilaporkan. Wanita dan pria yang memiliki resiko tinggi untuk mengalami sifilis adalah yang berusia muda, dari kelompok sosioekonomi rendah dan memiliki pasangan seksual multipel. Sebanyak 10-50 organisme penyebab sifilis sudah cukup untuk menyebabkan infeksi dan sekitar sepertiga kontak seksual dengan orang yang terinfeksi akan menjadi terinfeksi. Insidensi sifilis kongenital sesuai dengan insidensi pada wanita yang terinfeksi dan terus meningkat. Kewajiban untuk skrining pranatal telah menurunkan insidensi sifilis kongenital lanjut; tidak ada atau terlambatnya perawatan pranatal merupakan faktor resiko terbesar terjadinya sifilis kongenital